-->

Selasa, 06 Mei 2014

PEMERIKSAAN PALPASI DENGAN TEKNIK LEOPOLD

 A.    Mengaplikasikan konsep teori palpasi Teknik Leopold
Salah satu jenis pemeriksaan menggunakan sensasi taktil untuk menentukan cirri-ciri satu organ (Lukmanto dkk., 2006). Palpasi juga disebut periksa raba. Periksa raba abdomen pada wanita hamil dilakukan pada usia kehamilan 36 minggu untuk kehamilan normal dengan alasan pada usia kehamilan tersebut, janin sudah tumbuh optimal sehingga memenuhi seluruh rongga rahim. Organ-organ tubuh bayi sudah simetris, kepala sudah tumbuh dalam ukuran optimal dan merupakan bagian terberat dari seluruh organ tubuhnya. Dengan demikian, menurut hukum gravitasi bumi, benda yang terberat akan mencari posisi paling bawah. Pada saat ini kepala mulai turun masuk ke pintu atas panggul dan posisi janin sudah menetap di dalam rongga uterus sehingga tidak memungkinkan berubah posisi. Pemeriksaan dengan palpasi  sebelum 36 minggu tidak dilakukan karena letak, posisi, dan presentasi janin masih berubah-ubah. Selain itu, setiap pemeriksaan palpasi yang kita lakukan,  janin dalam kandungan  akan terganggu walaupun pemeriksaan sudah dilakukan secara cermat dan berhati-hati. Palpasi pada usia kehamilan 28 minggu dilakukan bila pada pemeriksaan McDonald, ditemukan tinggi fudus uteri lebih tinggi dari seharusnya.


 B.  Memenuhi tujuan dan  teknik palpasi Leopold
Tujuan pemeriksaan dengan teknik palpasi Leopold adalah mengetahui letak janin dan sebagai bahan pertimbangan dalam memperkirakan usia kehamilan. Secara terperinci tujuan palpasi Leopold untuk setiap langkah pemeriksaan adalah sebagai berikut :
Teknik Pemeriksaan Palpasi  Leopold I
Tujuan pemeriksaan :
a.       Mengetahui  tinggi fundus uterus untuk mempekirakn usia kehamilan.
b.      Menentukan bagian-bagian janin yang berbeda di fundus uteri.
Cara pemeriksaan :
      Sebelum diperiksa, ibu hamil dipersiapkan antara lain diberi tahumaksud dantujuan pemeriksaan. Pakaian dalam yang menghalangi pemeriksaan dibuka, pakaian luar dilonggarkan, dan bila ketat diganti dengan pakaian longgar untuk mempermudah pemeriksaan. Ibu hamil diperiksa dalam keadaan tidur terlentang, kedua lutut agak ditekuk. Pemeriksaan di seblah kanan ibu dengan posisi kaki kiri di depan dan kakin kanan di belakang menghadap ke wajah ibu.
       Suhu tangan pemeriksa disesuaikan dengan tangan ibu supaya uterus tidak berkontraksi saat dilakukan  palpasi dengan jalan : Bila cuaca dingin pemeriksa mencuci tangan dengan menggunakan air hangat, atau setelah mencuci tangan kedua telapak tangan dogosok-gosokan sampai terasa hangat.
      Mulai pemeriksaan dengan mendorong fundus uteri ke bagian tengah menggunakan tangan kiri, kemudian ditahan dengan tangan kanan dengan menggunakan jari-jari tangan kiri , tinggi fudus uteri diukur dari prosesus xifoideus sampai pusat . Akan diperoleh tinggi fudus uteri berapa jari berapa di bawah prosesus xifoideus. Bila fudus uteri mendekati  pusat,  tangan kiri pemeriksa menahan fudus uteri, tangan kanan mengukur tinggi fudus uteri mulai dari pusat. Berdasarkan pengukuran dari pemeriksaan palpasi diperkirakan usia kehamilan disesuaikan pula dengan hasil anamnesis hari pertama hair terakhir.
      Setelah tinggi fudus uteri diukur, dilanjutkan meraba bagian-bagian janin yang berada pada fudus uteri menggunakan tangan kanan dan tangan kiri secara bergantian. Bila meraba dengan tangan kanan, tangan kiri menahan, demikian sebaliknya. Bila teraba bagian yang bulat, keras, dan bila ditekan terasa lentingan, merupakan pertanda dari kepala janin. Bila kepala janin berada pada fudus uteri, janin adalah persentasi bokong.
      Bila bagian yang besar,bulat, lunak dan tidak ditekan tidak terasa lentingan, merupakan pertanda dari bokong janin. Bila bokong janin berada pada fudus uteri berarti janin presentasi kepala. Bila teraba bagian yang datar melebar adalah pertanda dari punggung janin. Bila punggung berada pada fudus uteri, berarti posisi janin melintan. Bila teraba bagian yang berbenjol-benjol kecil-kecil merupakan pertanda dari bagian-bagian kecil janin, seperti tangan dan kaki. Bila bagian-bagian kecil janin berada pada fundus uteri berarti janin juga posisinya melintang.
      Bila pada pemeriksaan palpasi dengan teknik Leopold I kita menemukan dua bagian besar janin, fudus uteri itu merupakan pertanda dari kehamilan  ganda/kembar. Misalnya, dua bagian yang bulat dank eras atau satu bagian yang bulat dank eras, dan satu bagian yang besar dan lunak, dan biasanya disertai dengan tinggi fudus uteri lebih tinggi dari usia kehamilan apabila diperhitungkan berdasarkan hari pertama haid terakhir

Teknik Pemeriksaan Palpasi  Leopold II
Tujuan pemeriksaan :
Mengetahui bagian-bagian janin yang berada pada bagian samping kanan dan samping kiri uterus.
Cara pemreiksaan:
Setelahmeraba bagian-bagian janin pada fundus uteri pada pemeriksaan Leopold I, tangan kiri dipindahkan ke bagian kanan uterus ibu, dan tangan kanan dipindahkan ke bagian kiri uterus ibu. Tangan kanan meraba bagian  janin yang ada di bagian samping kiri uterus, dan tangan kiri menahan uterus pada bagian samping kanan. Selanjutnya, tangan kiri meraba bagian janin yang berada di bagian samping kanan uterus ibu, dan tangan kanan menahan bagian samping kiri uterus ibu. Bila yang dirasakan bagian yang datar dan melebar adalah pertanda punggung janin, dan biladirasakan di bagian samping kiri uterus berarti posisi janin punggung kiri, sedangkan apabila dirasakan sebelah kanan berarti posisi janin punggung kanan. Sebaliknya, bila ditemukan di samping kiri uterus bagian yang bulat keras, mudah digerakan dan ada lentingan, sebagai pertanda kepala janin, dan di sebelah kanan ditemukan bagian yang besar, lunak, dan sulit digerakan, sebagai pertanda bokong janin, berarti posisi janin melintang dengan kepala di kiri. ADemikian sebaliknya.

Teknik Pemeriksaan Palpasi  Leopold III
Tujuan pemeriksaan:
a.       Menentukan bagian tubuh janin yang berada pada bagian bawah uterus.
b.      Mengetahui apakah bagian tubuh janin yang berada pada bagian bawah uterus sudah atau belum masuk ke pintu atas punggul ibu.
Cara pemeriksaan:
      Setelah meraba samping kanan dan samping kiri uterus, tangan kiri dipindahkan ke fudus uteri, tangan kanan memegang bagian bawah uterus diantara tulang pipa iskiadika anterior superior dan batas uterus bagian bawah, kemudian menggoyangkan secara berlahan-lahan, apabila teraba keras, bila digoyangkan ada lentingan, pertanda bokong janin. Pada satu bagian terendah janin digoyangkan, terasa bergoyang, berarti bagian terendah janin belum masuk ke pintu atas panggul. Sebaliknya, apabila saat digoyangkan tidak terasa bergoyang berarti bagian terendah janin sudah masuk ke pintu atas panggul.

Teknik Pemeriksaan Palpasi  Leopold IV
Tujuan pemeriksaan:
a.       Memastikan apakah bagian terendah janin sudah benar-benar masuk ke pintu atas panggul atau belum.
b.      Menentukan seberapa banyak bagian terendah janin sudah memasuki ke pintu atas panggul.
  Cara pemeriksaan:
      Pemeriksaan palpasi dengan teknik Leopold IV apabila, dari hasil pemeriksaan Leopold III ditemukan bagian terendah janin sudah masuk ke pintu atas panggul, atau hasil pemeriksaan dengan teknik Leopold III masih ada keragu-raguan./ Untuk mengecek hasil pemeriksaan palpasi Leopold III.
      Setelah melakukan pemeriksaan palpasi dengan teknik Leopold III, pemeriksa mengubah posisi menghadap ke bagian kaki ibu, ibu diminta untuk meluruskan kakinya atau tidak menekuk lutut.Tangan kiri pemeriksa dipindahkan ke sebelah lateral kiri uterus ibu, dan tangan kanan dipindahkan kesebelah lateral kanan uterus ibu, ujung jari tangan kanan dan kiri berada pada tepi atas tulang simfisis pubis. Pertemukan kedua ibu jari dan ujung-ujung jari tangan kanan dan kiri. Apabila ibu jari dan ujung-ujung jari tangan kanan dan kiri dapat bertemu satu sama lain disebut konvergen, berarti bagian terendah jani belum masuk pintu atas panggul ibu. Apabila ibu  jari dan ujung-ujung jari tangan kanan dan tangan kiri tidak adapat dipertemukan disebut divergen, berarti sebagian besar bagian terendah janin sudah masuk ke  pintu rongga panggul ibu.
Pemeriksaan palpasi teknik Leopold dilaksanakan setelah melaksanakan pemeriksaan tinggi funfus uteri dengan teknik McDonald, pada usia kehamilan 36 minggu, atau pada usia kehamilan 28 minggu apabila hasil pemeriksaan rtinggi fudus uteri dengan teknik McDonald hasilnya lebih tinggi dari usia kehamilan berdasarkan data hari pertama haid terakhir (HPHT).
sumber :http://ibudianhealth.blogspot.com

Senin, 10 Februari 2014

Nyeri Maag atau Kemungkinan itu Batu Empedu

Batu empedu adalah salah satu masalah kesehatan yang terjadi tanpa gejala. Hampir 50% penderita batu empedu tidak merasakan gejala apa-apa, 30% merasakan gejala nyeri dan 20% berkembang menjadi komplikasi. Sebagian besar penderita batu empedu, didiagnosa menderita maag dikarenakan rasa nyeri pada ulu hati, padahal secara anatomi empedu terletak pada perut sebelah kanan atas.**
Saat ini jumlah penderita batu empedu ini cenderung meningkat karena perubahan gaya hidup, seperti misalnya banyaknya makanan cepat saji (fast food) yang dapat menyebabkan kegemukan yang merupakan faktor terjadinya batu empedu. Kandung empedu merupakan organ berbentuk buah pir kecil yang terletak di perut sebelah kanan dan tersembunyi di bawah hati, yang menyimpan cairan empedu yang dihasilkan oleh hati. Ketika makan, kandung empedu akan menciut (kontraksi) dan mengeluarkan cairan empedu yang berwarna hijau kecoklatan ke dalam usus halus. Cairan empedu berguna dalam penyerapan lemak dan beberapa vitamin (vit. A,D, E, dan K).
Empedu merupakan campuran dari asam empedu, protein, garam kalsium, pigmen dan unsure lemak yang disebut kolesterol. Sebagian cairan empedu yang memasuki usus halus diteruskan dan dikeluarkan melalui feses. Kelainan utama kandung empedu adalah terbentuknya batu, yang terjadi karena perubahan secara kimiawi pada empedu. Batu ini terbentuk dari endapan kolesterol, pigmen bilirubin dan garam kalsium yang mengeras, namun paling banyak terbentuk dari kolesterol. Bentuk dan warna batu empedu bermacam- macam. Dari kolesteol berwarna kuning dan mengkilat seperti minyak, batu dari pigmen bilirubin akan berwarna hitam dan keras atau berwarna coklat tua dan rapuh. Ukurannya bervariasi, dari yang kecil berupa seperti butiran pasir hingga sebesar batu kerikil tetapi biasanya berdiamteter 1-2 cm.  
Penyebab terbentuknya batu empedu
Unsur pembentukan batu empedu adalah koleterol dan kalsium. Lebih dari 90 % batu empedu adalah batu koleterol (komposisi kolesterol >50 %) atau bentuk campuran ( 20-50 % unsur kolesterol) dan siasanya 10 % adalah batu pigmen (unsur kasium dominan dan koleterol< 20%).
Batu empedu adalah timbunan kristal di dalam kandung empedu atau di dalam saluran empedu. Batu yang ditemukan di dalam kandung empedu disebut kolelitiasis, sedangkan batu di dalam saluran empedu disebut koledokolitiasis. Jadi komponen utama dari batu empedu adalah kolesterol, sebagian kecil lainnya terbentuk dari garam kalsium. Cairan empedu mengandung sejumlah besar kolesterol yang biasanya tetap berbentuk cairan. Jika cairan empedu menjadi jenuh karena kolesterol, maka kolesterol bisa menjadi tidak larut dan membentuk endapan di luar empedu.  
Faktor Risiko
Batu empedu lebih banyak ditemukan pada wanita daripada kaum pria 3 : 1 Usia lanjut, semakin meningkat usia seseorang, semakin besar risikonya untuk mengidap batu empedu. Kegemukan (obesitas). Diet tinggi lemak. Faktor keturunan. Patofisiologi Sebagian besar batu empedu terbentuk di dalam kandung empedu dan sebagian besar batu di dalam saluran empedu berasal dari kandung empedu. Batu empedu bisa terbentuk di dalam saluran empedu jika empedu mengalami aliran balik karena adanya penyempitan saluran atau setelah dilakukan pengangkatan kandung empedu. Batu empedu di dalam saluran empedu bisa mengakibatkan infeksi hebat saluran empedu (kolangitis), infeksi pankreas (pankreatitis) atau infeksi hati. Jika saluran empedu tersumbat, maka bakteri akan tumbuh dan dengan segera menimbulkan infeksi di dalam saluran. Bakteri bisa menyebar melalui aliran darah dan menyebabkan infeksi di bagian tubuh lainnya.
Sebagian besar batu empedu dalam jangka waktu yang lama tidak menimbulkan gejala, terutama bila batu menetap di kandung empedu. Kadang-kadang batu yang besar secara bertahap akan mengikis dinding kandung empedu dan masuk ke usus halus atau usus besar, dan menyebabkan penyumbatan usus (ileus batu empedu). Yang lebih sering terjadi adalah batu empedu keluar dari kandung empedu dan masuk ke dalam saluran empedu. Dari saluran empedu, batu empedu bisa masuk ke usus halus atau tetap berada di dalam saluran empedu tanpa menimbulkan gangguan aliran empedu maupun gejala.  
Gejala dan Tanda
Banyak pasien yang tak sadar dirinya sering mengeluh sakit maag, padahal sebenarnya mengalami sakit batu empedu. “Faktanya, gejala sakit batu empedu memang mirip sekali dengan sakit maag. Tak sedikit penderita kerap bolak-balik ke dokter dan diberi obat maag, tapi tak kunjung membaik, Hal itu dapat terjadi karena keluhan dirasakan di tempat berdekatan, yakni lambung dan kantong empedu, di mana keduanya terletak di ulu hati. Jika salah satu organ ini mengalami peradangan, rasanya hampir sama. “Orang banyak mengira maag dan kembung. Tetapi setelah beberapa kali pemeriksaan ternyata ada batu di kantung atau saluran empedunya. Jika batu empedu secara tiba-tiba menyumbat saluran empedu, maka penderita akan merasakan nyeri. Nyeri cenderung hilang-timbul dan dikenal sebagai nyeri kolik. Timbul secara perlahan dan mencapai puncaknya, kemudian berkurang secara bertahap.
Nyeri bersifat tajam dan hilang-timbul, bisa berlangsung sampai beberapa jam. Lokasi nyeri berlainan, tetapi paling banyak dirasakan di perut atas sebelah kanan dan bisa menjalar ke bahu kanan. Penderita seringkali merasakan mual dan muntah. Jika terjadi infeksi bersamaan dengan penyumbatan saluran, maka akan timbul demam, menggigil dan sakit kuning (jaundice). Biasanya penyumbatan bersifat sementara dan jarang terjadi infeksi. Nyeri akibat penyumbatan saluran tidak dapat dibedakan dengan nyeri akibat penyumbatan kandung empedu. Penyumbatan menetap pada duktus sistikus menyebabkan terjadinya peradangan kandung empedu (kolesistitis akut). Batu empedu yang menyumbat duktus pankreatikus menyebabkan terjadinya peradangan pankreas (pankreatitis), nyeri, jaundice dan mungkin juga infeksi. Kadang nyeri yang hilang-timbul kambuh kembali setelah kandung empedu diangkat, nyeri ini mungkin disebabkan oleh adanya batu empedu di dalam saluran empedu utama.
“Batu empedu berukuran kecil lebih berbahaya dibanding batu berukuran besar. Karena yang kecil berpeluang berpindah tempat atau berkelana ke tempat lain dan memicu masalah lainnya,” Sakit batu empedu yang dialami penderita Asia dan Barat dipicu oleh penyebab berbeda. Riset menunjukkan, penyakit batu empedu di Asia umumnya disebabkan infeksi di saluran pencernaan, sementara di Barat dipicu empat faktor risiko, yakni jenis kelamin wanita, usia di atas 40 tahun, diet tinggi lemak, dan kesuburuan.
Di Asia termasuk Indonesia, faktor pencetus infeksi dapat disebabkan kuman yang berasal dari makanan yang dikonsumsi. Infeksi bisa merambat ke saluran empedu sampai ke kantung empedu. “Di Indonesia, penyebab yang paling utama bukan karena lemak atau kolesterol, tetapi akibat infeksi-infeksi di usus. Infeksi ini menjalar tanpa terasa menyebabkan peradangan pada saluran dan kantung empedu sehingga berakibat cairan yang berada di kantung empedu mengendap dan menimbulkan batu,” Infeksi yang terutama menyebabkan batu empedu, kata Rino, adalah tifoid atau sakit tifus. /”Tifus itu kumannya muara atau teramilan terakhir di kantong empedu dapat menyebabkan peradangan lokal di situ yang tidak dirasakan pasien tidak merasa sakit atau demam,”. / Kebiasaan pasien untuk tidak meneruskan obat antiobiotik hingga tuntas juga dapat memicu timbulnya batu empedu. Kuman akan terus berada di kantung empedu karena dalam siklus perjalanannya akan bermuara di kantung empedu. /”Oleh sebab itu, antibiotik harus dihabiskan supaya kuman di kantong empedu benar-benar habis,” / Komplikasi Komplikasi yang mungkin segera terjadi adalah: Perdarahan Peradangan pankreas (pankreatitis).
Perforasi atau infeksi saluran empedu. Pada 2-6% penderita, saluran menciut kembali dan batu empedu muncul lagi. Pencegahan Karena komposisi terbesar batu empedu adalah kolesterol, sebaiknya menghindari makanan berkolesterol tinggi yang pada umumnya berasal dari lemak hewani. Sebagai informasi, ada perbedaan mencolok dalam hal angka kejadian batu empedu : di Okinawa dan di Amerika serikat. Di Okinawa, angka kejadian hanya 4 %, sementara di Amerika Serikat mencapai tigakalinya (11,9%). Apa yang membedakannya ? Masyarakat Okinawa lebih banyak mengkonsumsi rumput laut, sayur2 an yang kaya akan serat dan makanan laut yang banyak mengandung Omega-3. Jenis-jenis makanan tersebut bermanfaat untuk mencegah pembentukan batu kolesterol. Sementara masyarakat Amerika Serikat genar mengkonsumsi protein Hewani yang cenderung meningkatkan kolesterol dan kegemukan. Semua ini berpotensi meningkatkan resiko terbentuknya batu kolesterol.
Penatalaksanaan Jika tidak ditemukan gejala, maka tidak perlu dilakukan pengobatan. Nyeri yang hilang-timbul bisa dihindari atau dikurangi dengan menghindari atau mengurangi makanan berlemak. Batu kandung empedu Jika batu kandung empedu menyebabkan serangan nyeri berulang meskipun telah dilakukan perubahan pola makan, maka dianjurkan untuk menjalani pengangkatan kandung empedu (kolesistektomi). Pengangkatan kandung empedu tidak menyebabkan kekurangan zat gizi dan setelah pembedahan tidak perlu dilakukan pembatasan makanan.
/Kolesistektomi laparoskopik mulai diperkenalkan pada tahun 1990/* dan sekarang ini sekitar 90% kolesistektomi dilakukan secara laparoskopi. Kandung empedu diangkat melalui selang yang dimasukkan lewat sayatan kecil di dinding perut. Jenis pembedahan ini memiliki keuntungan sebagai berikut: Mengurangi rasa tidak nyaman pasca pembedahan. Memperpendek masa perawatan di rumah sakit. Teknik lainnya untuk menghilangkan batu kandung empedu adalah: Pelarutan dengan metil-butil-eter. Pemecahan dengan gelombang suara (litotripsi). Pelarutan dengan terapi asam empedu menahun (asam kenodiol dan asam ursodeoksikolik).
Batu saluran empedu batu saluran empedu bisa menyebabkan masalah yang serius, karena itu harus dikeluarkan baik melalui pembedahan perut maupun melalui suatu prosedur yang disebut endoscopic retrograde cholangiopancreatography (ERCP). Pada ERCP, suatu endoskop dimasukkan melalui mulut, kerongkongan, lambung dan ke dalam usus halus. Zat kontras radioopak masuk ke dalam saluran empedu melalui sebuah selang di dalam sfingter oddi. Pada sfingterotomi, otot sfingter dibuka agak lebar sehingga batu empedu yang menyumbat saluran akan berpindah ke usus halus.
ERCP dan sfingterotomi telah berhasil dilakukan pada 90% kasus. Kurang dari 4 dari setiap 1.000 penderita yang meninggal dan 3-7% mengalami komplikasi, sehingga prosedur ini lebih aman dibandingkan pembedahan perut. ERCP saja biasanya efektif dilakukan pada penderita batu saluran empedu yang lebih tua, yang kandung empedunya telah diangkat.

Kamis, 07 November 2013

Angka kematian bayi menurut who 2013

Menkes Kaget Angka Kematian Ibu Bayi Masih Tinggi

Menkes Kaget Angka Kematian Ibu Bayi Masih Tinggi
Sejumlah ibu membawa balitanya antre untuk mendapatkan pengobatan gratis di Muara Angke Kampung Baru, Pluit, Jakarta, (9/3). Diperkiran 9.500 ibu meninggal saat melahirkan serta 157.000 bayi dan 200.000 anak balita meninggal setiap tahun. TEMPO/Aditia Noviansyah
TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi prihatin pada tingginya angka kematian ibu dan bayi di Indonesia. Berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012, angka kematian ibu mencapai 359 per 100 ribu kelahiran hidup. Dalam survei yang sama, lima tahun lalu, angka kematian ibu hanya 228 per 100 ribu kelahiran hidup.

"Kami sudah lakukan semua langkah dan mobilisasi. Tiba-tiba dikagetkan angka kematian ibu yang masih tinggi. Pusing enggak? Untung enggak ada zamannya Menkes bunuh diri karena angka kematian tinggi," kata Nafsiah dalam peluncuran "Rencana Aksi Nasional Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu" di kantor Kemenkes, Kamis, 26 September 2013.

Menurut Nafsiah, hasil SDKI 2012 akan menjadi pertimbangan besar bagi kementerian dan dinas kesehatan untuk melanjutkan program kesehatan. Namun, dia meminta para dokter dan tenaga kesehatan di seluruh daerah tak hanya terpaku pada angka-angka dan presentasi.

Dokter dan tenaga kesehatan, kata Nafsiah, harus fokus pada pendekatan dan upaya preventif meningkatkan kesehatan masyarakat. Terhadap ibu hamil, tindak pencegahan dan pemantauan harus dilakukan sedini mungkin.

"Apa pun yang dikatakan survei, harus terus berfokus pada manusianya," ujarnya. "Apakah ada wanita yang meninggal karena tak mendapat layanan maksimal dan tak mendapat penanganan saat dibutuhkan. Itulah yang harus jadi fokus."

Nafsiah mengatakan, untuk menekan tingkat kematian ibu, Kementerian Kesehatan melalui "Rencana Aksi Nasional Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu" akan mengutamakan pembenahan kesehatan di sektor hulu. (Baca : Atasi Kematian Ibu dan Bayi, Ini Usaha Pemerintah | )

Rencana aksi ini menekankan pada peningkatan kualitas kesehatan masyarakat sejak dini, mulai dari anak-anak dan remaja. Kualitas kesehatan reproduksi remaja akan menjadi fokus Kemenkes melalui kerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Agama.

Selain itu, Kemenkes juga akan mendorong masyarakat dan keluarga, terutama suami untuk lebih aktif mengontrol dan menjaga pasangannya yang hamil. Deteksi dini dari keluarga akan menjauhkan ibu hamil dari risiko kematian. "Suaminya dan siapa yang menghamili itu harus dilibatkan. Come on! Jangan pernah biarkan wanita hamil dalam kesendirian," ujarnya.

Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan (BUK) Kemenkes, Akmal Taher, mengatakan untuk menekan angka kematian ibu, Kemenkes akan melakukan koordinasi terpadu dengan seluruh direktorat terkait dan pemerintah daerah. Intervensi dan pendampingan akan diprioritaskan pada daerah rawan.

Saat ini, berdasarkan hasil sensus kesehatan 2010, daerah yang masih tinggi tingkat kematian ibu bayi berada di wilayah Indonesia timur. Untuk setiap 100 ribu kelahiran hidup di Papua, angka kematian ibu mencapai 620, Papua Barat sebanyak 573 kematian, Maluku Utara 387, dan Sulawesi Tengah 379.

Akmal mengatakan, dalam rencana aksi nasional, Kemenkes akan meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan pada masyarakat. Kesiapan rumah sakit dan puskesmas juga akan terus digenjot untuk memberi layanan 24 jam dan 7 hari penuh. "Di luar itu kami juga akan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk meningkatkan perhatian pada peningkatan layanan kesehatan.